adaptif

15 11 2009

habis renangTUNA DAKSA

Tarmansyah mendefinisikan ”Tuna daksa adalah istilah lain dari tuna fisik; yang dimaksud disini adalah berbagai jenis gangguan fungsi fisik, yang berhubungan dengan kemampuan motorik dan beberapa gejala penyerta yang mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam mengikuti pendidikan normal, serta dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Anak tuna daksa ini mudah diketahui karena ketunaannya tampak secara jelas”.

Sementara, Slamet Riadi Dkk, mendefinisikan ”Istilah lain dari tuna daksa adalah kelainan tubuh, cacat tubuh, cripple. Masing-masing ahli memilih istilah yang disukai dengan alasan sendiri-sendiri”.

Adapun beberapa macam kelompok tuna daksa, diidentifikasi oleh Djadja Rahardja sebagai berikut :

a) Tuna daksa murni, golongan ini umumnya tidak mengalami gangguan mental atau kecerdasan, seperti poliomylitis serta cacat ortopedis lainnya, dan

b) Tuna daksa kombinasi, golongan ini masih ada yang normal namun kebanyakan mengalami gangguan mental, seperti anak cerebral palsy.

Namun terdapat pula yang berpendapat bahwa tuna daksa dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan yaitu :

a) Tuna daksa taraf ringan, yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna daksa murni dan tuna daksa kombinasi ringan. Tuna daksa jenis ini pada umumnya hanya mengalami sedikit gangguan mental dan kecerdasannya cenderung normal. Kelompok ini lebih banyak disebabkan adanya kelainan anggota tubuh saja, seperti lumpuh , anggota tubuh berkurang (buntung) dan cacat fisik lainnya;

b) Tuna daksa taraf sedang, yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna akibat cacat bawaan, cerebral palsy ringan dan polio ringan. Kelompok ini banyak dialami dari tuna akibat cerebral palsy (tuna mental) yang disertai dengan menurunnya daya ingat walau tidak sampai jauh dibawah normal;

c) Tuna daksa taraf berat, yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna akibat cerebral palsy berat dan ketunaan akibat infeksi. Pada umumnya anak yang terkena kecacatan ini tingkat kecerdasannya tergolong dalam kelas debil, embesil dan idiot.

TUNA GRAHITA

Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi.Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental. Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:

1. Lemah fikiran ( feeble-minded);

2. Terbelakang mental (Mentally Retarded);

3. Bodoh atau dungu (Idiot);

4. Pandir (Imbecile); 5. Tolol (moron);

6. Oligofrenia (Oligophrenia);

7. Mampu Didik (Educable);

8. Mampu Latih (Trainable);

9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;

10. Mental Subnormal;

11. Defisit Mental;

12. Defisit Kognitif;

13. Cacat Mental;

14. Defisiensi Mental;

15. Gangguan Intelektual American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tunagrahita sebagai kelainan:yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes;

Definisi yang sedikit berbeda dipublikasikan oleh APA (American Psychological Association). Tunagrahita merujuk pada: (a) keterbatasan fungsi intelektual umum, (b) keterbatasan fungsi adaptif, dan (c) satu atau keduanya dari keterbatasan intelektual dan adaptif dialami sebelum usia 22 tahun.

Level ketunagrahitaan berdasarkan tingkat inteligensi yang ditunjukkan oleh IQ adalah sebagai berikut:

A. Tunagrahita ringan: Skor IQ dari 70 sampai 55/50

B. Tunagrahita sedang: Skor IQ dari 55/50 sampai 40/35

C. Tunagrahita berat: Skor IQ dari 40/35 sampai 25/20

D. Tunagrahita sangat berat : Skor IQ dibawah 25/20

Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi empat tahap, yaitu:

(1) sonsorimotor umur 0-2 tahun,

(2) praoperasi umur 2-7 tahun,

(3) operasi konkrit, umur 8-11 tahun dan

(4) operasi formal umur 11 tahun ke atas.

Level ketunagrahitaan berdasarkan perilaku adaptif adalah sejauhmana penyandang tunagrahita membutuhkan dukungan atau bantuan untuk dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosialnya. Berdasarkan besar dan kecilnya dukungan atau bantuan ini, ketunagrahitaan dibagi ke dalam empat level.

1. Intermittent support, penyandang tunagrahita pada level ini membutuhkan sedikit dukungan atau bantuan, khususnya berkaitan dengan kebutuhan dasar. Dukungan diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupannya. Contohnya dukungan program keterampilan untuk mempersiapkan terjun ke masyarakat. Dalam konteks pendidikan Luar Biasa di Indonesia, siswa tunagrahita ringan masuk dalam level ini.

2. Limited support, penyandang tunagrahita pada level ini membutuhkan dukungan dan bantuan secara intensif. Berbeda dengan level intermittent, dimana dukungan dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Dalam konteks kita, level ini sesuai dengan siswa tunagrahita sedang. Contohnya dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah, anak tunagrahita pada level ini bisa melakukan sendiri dengan pengawasan dan arahan dari orangtua.

3. Extensive support, penyandang tunagrahita pada level ini membutuhkan dukungan sepanjang waktu. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari di rumah penyandang tunagrahita pada level ini membutuhkan bantuan.

4. Pervasive support, penyandang tunagrahita pada level ini membutuhkan pelayanan sepanjang waktu. Kebutuhan bantuannya lebih dari level extensive

Model buku ajar yang tepat bagi siswa tunagrahita sedang hendaknya memenuhi ciri-ciri sebagai berikut.

1. Tematik, artinya buku ajar dibuat berdasarkan tema-tema tertentu. Melalui pendekatan tematik ini materi dari berbagai mata pelajaran diintegrasikan dalam tema-tema pemersatu. Kalau selama ini kita mengenal buku ajar sesuai dengan mata pelajaran. Maka dalam pendekatan tematik, yang menjadi judul buku

adalah temanya. Misalnya buku dengan judul diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan rumah, binatang ternak, liburan, dan lain-lain.

2. Ilustratif, artinya buku ajar untuk siswa tunagrahita hendaknya berisi banyak ilustrasi. Seperti halnya buku cerita bergambar, ilustrasi menjadi bagian utama, baru didukung oleh teks yang sederhana.

3. Penuh warna, bagi siswa tuna grahita sedang, buku yang dicetak dengan penuh warna lebih menarik dibanding dengan buku yang tidak berwarna. Mengingat siswa tunagrahita sedang mempunyai hambatan dalam perhatian, maka buku ajar yang berwarna dapat menarik perhatian siswa.

4. Kesesuain tokoh, tokoh atau pelaku yang ada dalam buku ajar sebaiknya mewakili segmen pembaca, dari sisi usia dan karakter.

TUNA NETRA

Secara etimologis, kata tuna berarti luka, rusak, kurang atau tiada memiliki. Netra berarti mata atau penglihatan. Jadi tunanetra berarti kondisi luka atau rusaknya mata, sehingga mengakibatkan kurang atau tiada memiliki kemampuan persepsi penglihatan

Tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain :
a. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter.
b. Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.

c. Bidang penglihatannya tidak lebih luas dari 20º

a. Penglihatan normal, memiliki ciri-ciri:
1) Mata normal
2) Penglihatan dengan ketajaman 6/6-6/7,5 yaitu jika sesorang dapat melihat benda dengan jelas pada jarak antara 6 sampai dengan 7,5 meter atau efisiensi penglihatan sebesar 95 %-100 %
3) Penglihatan mata normal dan sehat

b. Hampir normal, memiliki ciri-ciri
1) Penglihatan 6/9-6/21 yaitu jika orang normal dapat melihat benda dengan jelas sejauh 9 sampai dengan 21 meter maka perbandingannya dengan orang dengan penglihatan hampir normal adalah sejauh 6 meter atau efisiensi penglihatan sebesar 75 %-90%
2) Tidak ada masalah gawat
3) Perlu diketahui penyebab yang mungkin dapat diperbaiki

c. Low Vision sedang, memiliki ciri-ciri:
1) Penglihatan 6/60-6/120 yaitu jika orang normal dapat melihat benda dengan jelas sejauh 60 sampai dengan 120 meter maka perbandingannya dengan orang dengan penglihatan low vision adalah sejauh 6 meter atau efisiensi penglihatan sebesar 10 %-20%
2) Masih mungkin orientasi dan mobilitas umum
3) Mendapat kesukaran berlalu lintas dan melihat nomor mobil
4) Membaca perlu memakai lensa kuat dan membaca menjadi lambat

d. Low Vision nyata, memiliki ciri-ciri:
1) Penglihatan 6/240 yaitu jika orang normal dapat melihat benda dengan jelas sejauh 240 meter maka perbandingannya dengan orang dengan penglihatan low vision nyata adalah sejauh 6 meter atau efisiensi penglihatan sebesar 5%
2) Gangguan masalah orientasi dan mobilitas
3) Perlu tongkat putih untuk berjalan
4) Umumnya memerlukan sarana baca dengan huruf Braille, radio dan pustaka kaset

e. Hampir buta, memiliki ciri-ciri:
1) Penglihatan menghitung jari kurang empat kaki
2) Penglihatan tidak bermanfaat bagi orientasi mobilitas
3) Harus memakai alat non visual
f. Buta total, memiliki ciri-ciri:
1) Tidak mengenal adanya rangsangan sinar
2) Seluruhnya tergantung pada alat indera selain mata


Aksi

Information

2 responses

22 05 2013
baskoro

Kebetulan saya sedang mnengerjakan thesis yang berhubungan dengan penyandang difabel tuna daksa polio. Bisa minta tolong diinformasikan buku/literatur apa untuk klasifikasi tuna daksa di atas? terimakasih..salam

12 02 2011
patricia

Dear Bpk / Ibu / Sdra / Sdri semoga informasi ini bisa menjadi alternative pilihan solusi yang bermanfaat. terima kasih. Salam, Patricia, Gbu.

AUTOADAPT and HOMEADAPT for your INDEPENDENCE and QUALITY of LIFE.

A TRULY BREAKTHROUGH INNOVATIVE MOBILITY SOLUTION for benefit of both DISABLED ,HANDICAPPED, CHALLENGED and or ELDERLY as well as CAREGIVER.

Increase your independence and regain your freedom anywhere where you need.
NOW AVAILABLE in Indonesia various alternative of reliable compact design and user friendly mobility product from AUTOADAPT AB, a leading global provider of VEHICLE ADAPTATION and INDEPENDENT LIVING AID to meet DISABLED,HANDICAPPED,CHALLENGED ( persons with reduced or limited mobility ) and ELDERLY specific requirement, almost ANYWHERE WHERE YOU NEED, such as : to and from a bed, a wheelchair, a stairlift, a mobile base, a vehicle, a chair, a toilet, a bathtub, a floor, etc at home, at friend’s house, elsewhere.

Autoadapt AB premium products Turny, Carony and Turnout are innovative solutions for getting in and out of your vehicle, and the Carolift family of wheelchair lifts allow you to easily bring your wheelchair along.

Autoadapt AB offer a full range of high SAFETYand QUALITY as well as FUNCTIONALITY products for car adaptation, including hand controls, seating comfort and much more.

Autoadapt AB pride ourselves on providing reliable solutions that you can depend on every day for your independence and freedom

Authorized Dealer Autoadapt AB ( http://www.autoadapt.com/ ):
PT. HIDUP BERKAT RAHMAT ANUGERAH.
a HEAVENLY BLESS company.
For more detail information please contact ms.Patricia at 087882192701 or patricia@hbra.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: