revolusi belajar

15 11 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiarat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmatnya , sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Makalah ini kami tujukan kepada mahasiswa FIK Universitas Negeri Malang pada umumnya dan para mahasiswa pengikut matakuliah Teknologi Pembelajaran Penjas pada khususnya.

Isi makalah ini kami ambil dari beberapa sunber (rujukan ) yang ada dan kami anggap relevan.

Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak, terujtama teman sejawat yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat memperlancar penyusunan makalah ini.

Kami menyadari sepenuhnya, masih banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini. Untuk itu,saran-saran perbaikan dan masukan yang mengaranh pada perbaikan makalah ini, selalu harapkan dari segenap pembaca.

Terlepas dari itu semua, terbersit dalam benak kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi si pembaca.

Malang,Februari 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ……………………………………………………. … i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang ……………………………………………………. 1
    2. Rumusan Masalah ………………………………………………… 2
    3. Tujuan Penulisan Makalah ……………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

  1. Belajar dan Gaya Belajar ………………………………………… 3
    1. Gaya Belajar Visual ……………………………………………… 7
    2. Gaya Belajar Auditori ………………………………………………………….. 8
    3. Gaya Belajar Kinestetik ……………………………………………………….. 9

  2. Tipe Kecerdasan Anak …………………………………………………………. 10

    1. Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka ………………. 11
    2. Kecerdasan Bahasa atau cerdas kata ……………………………………….. 11
    3. Kecerdasan musikal atau cerdas musik …………………………………… 11
    4. Kecerdasan Visual spasial atau cerdas gambar ………………………… 12
    5. Kecerdasan Kinestetik atau cerdas gerak ………………………………… 12
    6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman ………………………….. 12
    7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri ……………………………… 12
    8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam …………………………………… 13

BAB III PENUTUP

    1. Kesimpulan …………………………………………………….. 14
    2. Saran …………………………………………………………… 16

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Pengangguran semakin membengkak pada dewasa ini. Pada tahun 2003 saja ada 43 juta lebih usia pekerja produktif menganggur akibat ketidakmampuan pendidikan menghantarkan manusia menjadi mandiri dan berkualitas. Bagaimana dengan sekarang. Tentunya jumlah pengangguran tak jauh beda, mungkin sudah melebihi angka tersebut. Tantangannya, bagaimana menciptakan tenaga kerja terbaik. Untuk itu perlu terobosan secara revolusioner cara belajar yang efektif.

Selama ini, sekolah cenderung identik dengan kewajiban belajar. Akibatnya, banyak siswa merasa gagal, karena sistem sekolah dianggap membosankan dan melelahkan. Sistem belajar yang disampaikan oleh guru cenderung menakutkan, membuat siswa stress.

Jalan keluarnya, tawaran belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan menjadi penting. Kenapa? Agar sistem pembelajaran mampu melakukan perubahan-perubahan berkualitas yang sejalan dengan dinamika masa depan yang tambah kompleks. Persaingan globalisasi membutuhkan aktor-aktor berkualitas.

Kualitas lulusan yang telah dihasilkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia, telah sewajarnya menjadi keprihatinan kita bersama. Kewajiban anak-anak menempuh wajib belajar 9 tahun seyogyanya perlu didasari oleh visi bersama yang mengacu pada kualitas anak didik handal, mampu, mandiri dan kreatif. Sayangnya, cita-cita ini hanya memperoleh sedikit perhatian dari pemerintah dan masyarakat.

Keinginan untuk menciptakan sekolah unggul hanya pada tataran ide. Yang ada, terkesan asal-asalan, bahkan terbaca, pihak penyelenggara membiarkan kondisi sarana dan prasarana pendidikan sangat minim dari memadai dan dari berstandar mutu. Sikap bias ini begitu nampak dari alokasi anggaran untuk pendidikan di setiap daerah berkisar 5

– 10% yang berorientasi pada pembangunan gedung semata.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah belajar itu dan ada Berapakah gaya belajar itu?
  2. Apakah gaya belajar visual itu?
  3. Bagaimanakah cirri-ciri belajar visual itu?

  4. Bagaimanakah strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual?
  5. Apakah gaya belajar auditori itu?
  6. Bagaimanakah cirri-ciri belajar auditori itu?

  7. Bagaimanakah strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori?

  8. Apakah gaya belajar kinestetik itu?

  9. Bagaimanakah cirri-ciri belajar kinestetik itu?

  10. Bagaimanakah strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik?

  11. Apasajakah tipe kecerdasan anak itu?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini disusun untuk memberikan informasi mengenai revolusi belajar dan juga dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi si pembaca.

BAB II

PEMBAHASAN

2. Belajar dan Gaya Belajar

Belajar dalam pengertian luas adalah di mana guru murid mengetahui poko penting dari aspek-aspek perbuatan belajar.Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari dua jenis pandangan yakni tradisional dan moderen.Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlahilmu penegetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia,pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak maka ia akan mendapat kekuasaan.Kedua , pandangan moderen, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya.Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.

Dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi

Lain ladang, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah di atas memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Pun bila mereka bersekolah di sekolah atau bahkan duduk di kelas yang sama.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Sebagian siswa lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Tapi, sebagian siswa lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada siswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Cara lain yang juga kerap disukai banyak siswa adalah model belajar yang menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagia setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Tentu saja, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Gaya belajar itu sendiri memiliki arti cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Pertimbangan ini yang seringkali kita lupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi diri sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa kita dapatkan bila kita mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri.

Kalangan tua, biasanya menyerap banyak pengetahuan tentang gaya belajar, berdasarkan pengalaman yang telah mereka lewati. Misalnya, mereka pernah bekerja, menjalani latihan militer, mendidik dan membimbing anak, dan sebagainya. Rangkaian pengalaman yang mereka lewati itu, sesungguhnya, adalah bagian dari cara mereka mendapatkan pelajaran berarti yang mungkin bisa kita serap untuk melihat seperti apa sebetulnya gaya belajar yang tepat bagi kita. Apa pun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting yang tak boleh dilupakan.

  • Ada empat gaya belajar yang dikemukan oleh Anthony Gregore seorang profesor kurikulum instruksi di Universitas Connecticut yaitu:

    1. Sekuensial konkrit yaitu mengutamakan realitas sebagai objek untuk memandang sesuatu.

    2. Acak konkrit yaitu kecenderungan belajar dengan cara bereksprimen.

    3. Acak abstrak yaitu gaya belajar yang cenderung memandang dunia dengan perasaan dan emosi untuk merefleksikan dan menemukan fikiran baru dari hasil perenungannya.

    4. Sekuensial abstrak yaitu gaya belajar yang tidak beraturan dan cenderung mengikuti situasi yang ada, untuk itu perlu mempelajari logika untuk menggali kemampuan yang terpendam.

Dari keempat gaya belajar tersebut diatas maka setiap anak didik memunyai kecenderungan yang unik dalam memaksimalkan kemampuan yang dimiliki. Semakin kreatif seseorang dalam mencipta, maka belajar cara revolusi menjadi alternatif model pertimbangan. Terlebih pada situasi pasar global yang menuntut cepat dalam mengambil keputusan dalam setiap saat. Kecerdasan bisnis untuk tetap bisa survive dengan kompetisi tiada batas antar negara memberi peluang bagi anak didik untuk mandiri dalam belajar. Pembatasan wilayah yang telah terpecahkan melalui media computer dan internet semakin menambah luas jaringan untuk membuka wawasan yang serba baru dengan kecepatan yang tinggi.

Dampak globalisasi membawa keuntungan sekaligus tantangan bagi anak didik untuk kreatif menggunakan kesempatan yang tidak diperoleh sebelumnya oleh guru yang mengajar. Kesempatan untuk mencari informasi tanpa guru sangat mungkin dalam kemajuan teknologi yang serba canggih. Teman bisa berperan sebagai guru, begitupun guru berperan sebagai teman. Anak didikpun berfungsi sebagai guru untuk orang lain dan dirinya sendiri. Di zaman yang serba canggih ini, semuanya menjadi mungkin, bukan sekedar impian kosong mewujudkannya. Jasa dan kepribadian serta penalaran merupakan hal yang dipertaruhkan dalam tuntutan masa sekarang.

  • Gaya Belajar Visual,Auditorial,Kinestetik

Selain gaya belajar yang dikemukakan oleh Anthony Gregore di atas ada juga gaya belajar yang lain.

Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing_ masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga molalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

2.1. Gaya Belajar Visual (belajar dengan cara melihat)

Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

  • Bicara agak cepat

  • Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

  • Tidak mudah terganggu oleh keributan

  • Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan

  • Pembaca cepat dan tekun

  • Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

  • Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

  • Lebih suka musik dari pada seni

  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

  • Teliti terhadap detail

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2.2 Gaya Belajar Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

  • Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

  • Penampilan rapi

  • Mudah terganggu oleh keributan

  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

  • Biasanya ia pembicara yang fasih

  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

  • Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

  • Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

  • Berbicara dalam irama yang terpola

  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

    1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

    2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

    3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

    4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

    5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

2.3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  • Berbicara perlahan

  • Penampilan rapi

  • Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

  • Belajar melalui memanipulasi dan praktek

  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

  • Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

  • Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

  • Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

  • Menyukai permainan yang menyibukkan

  • Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

  • Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

    1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

    2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

    3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

    4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

    5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

3.Tipe Kecerdasan Anak

3.1 Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka

Memuat kemampuan seorang anak berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah melalui kemampuan berpikir. Anak-anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan analisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.

Mereka menyenangi cara berpikir yang konseptual, misalnya menyusun hipotesis, mengategori, dan mengklasifikasi apa yang dihadapinya. Anak-anak ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan yang tinggi dalam menyelesaikan problem matematika.

Bila kurang memahami, mereka cenderung bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya. Anak-anak yang cerdas angka juga sangat menyukai permainan yang melibatkan kemampuan berpikir aktif seperti catur dan bermain teka-teki. Setelah remaja biasanya mereka cenderung menggeluti bidang matematika atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli statistik, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.

3.2Kecerdasan bahasa atau cerdas kata

Memuat kemampuan seorang anak untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya. Anak-anak dengan kemampuan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara.

Anak-anak ini cenderung memiliki daya ingat yang kuat akan nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal kemampuan menguasai bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya.  Pada saat dewasa biasanya mereka akan menjadi presenter, pengarang, penyair, wartawan, penerjemah, dan profesi-profesi lain yang banyak melibatkan bahasa dan kata-kata.

3.3 Kecerdasan musikal atau cerdas musik

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, dalam hal ini adalah nada dan irama. Anak-anak ini senang sekali mendengar nada-nada dan irama yang indah, mulai dari senandung yang mereka lakukan sendiri, dari radio, kaset, menonton orkestra, atau memainkan alat musik sendiri. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu dengan musik. Saat dewasa mereka dapat menjadi penyanyi, pemain musik, komposer pencipta lagu, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan musik.

3.4. Kecerdasan visual spasial atau cerdas gambar

Memuat kemampuan seorang anak untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara objek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya, atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi. Setelah dewasa biasanya mereka akan menjadi pemahat, arsitek, pelukis, desainer, dan profesi lain yang berkaitan dengan seni visual.

3.5. Kecerdasan kinestetik atau cerdas gerak

Memuat kemampuan seorang anak untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul dalam bidang olah raga, misalnya bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan cabang-cabang olah raga lainnya, atau bisa pula terlihat pada mereka yang unggul dalam menari, bermain sulap, akrobat, dan kemampuan-kemampuan lain yang melibatkan keterampilan gerak tubuh.

3.6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan sosial, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, termasuk berkemampuan memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, dan memperoleh simpati dari anak yang lain. Setelah dewasa mereka dapat menjadi aktivis dalam organisasi, public relation, pemimpin, manajer, direktur, bahkan menteri atau presiden.

3.7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Mereka cenderung mampu mengenali kekuatan atau kelemahan dirinya sendiri, senang mengintropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. Beberapa di antara mereka cenderung menyenangi kesendirian dan kesunyian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri. Saat dewasa biasanya mereka akan menjadi ahli filsafat, penyair, atau seniman.

3.8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan.

Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda), Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka.

Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya, mereka memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dari orang tua dan pendidik untuk secara tekun dan rendah hati mengamati dan memahami potensi anak atau murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, dan menghargai seriap bentuk kecerdasan yang berlainan.

BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

  • Belajar dalam pengertian luas adalah di mana guru murid mengetahui poko penting dari aspek-aspek perbuatan belajar.
  • Gaya belajar itu sendiri artinya adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut.

Macam-macam gaya belajar:

  1. Gaya Belajar Visual (belajar dengan cara melihat)

Ciri-ciri gaya belajar visual :

  • Bicara agak cepat

  • Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

  • Tidak mudah terganggu oleh keributan

  • Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan

  • Pembaca cepat dan tekun

  • Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

  • Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

  • Lebih suka musik dari pada seni

  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

2.Gaya Belajar Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

  • Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

  • Penampilan rapi

  • Mudah terganggu oleh keributan

  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

  • Biasanya ia pembicara yang fasih

  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

  • Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

  • Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

  • Berbicara dalam irama yang terpola

  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

3.Gaya Belajar kinestetik

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  • Berbicara perlahan

  • Penampilan rapi

  • Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

  • Belajar melalui memanipulasi dan praktek

  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

  • Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

  • Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

  • Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

  • Menyukai permainan yang menyibukkan

  • Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

  • Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

  • Tipe-tipe kecerdasan anak:

    1. Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka
    2. Kecerdasan Bahasa atau cerdas kata
    3. Kecerdasan musikal atau cerdas musik
    4. Kecerdasan Visual spasial atau cerdas gambar
    5. Kecerdasan Kinestetik atau cerdas gerak
    6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman
    7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri
    8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam

4.2 Saran

Untuk mendapatkan informasi mengenai pengertian belajar,macam-macam gaya belajar dan macam-macam kecerdasan seseorang maka, disarankan untuk membaca makalah ini yang juga dapat digunakan sebagai acuan pada saat belajar.

DAFTAR PUSTAKA

  • Syukur,Fatah.Drs,M.Ag.2004.Teknologi Pendidikan.Semarang:RaSAIL
  • De Porter,Bobbi & Hernachi,Mike.2002.Quantum Learning.Bandung:Kaifa
  • http://www.pembelajaranvisual.com


Aksi

Information

One response

18 11 2009
ulya07

. hwaduw.
.cek dowo ee ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: